Suasana Jalan Tunjungan di Kota Surabaya
Kawasan Jalan Tunjungan yang kini ramai dikunjungi warga menikmati suasana heritage dan kuliner

Transformasi Jalan Tunjungan Surabaya, Dari Pusat Belanja Era Kolonial Menjadi Kawasan Heritage Populer

Oleh Bima Bagus Sadewa Winanda 2026-08-03 3 menit

Jalan Tunjungan di Surabaya kembali memikat masyarakat sebagai kawasan heritage favorit untuk wisata sejarah, kuliner, dan ruang publik yang hidup.

Daya Tarik Baru Kawasan Heritage Jalan Tunjungan

Kawasan Jalan Tunjungan di Kota Surabaya kembali menunjukkan daya tarik kuatnya bagi masyarakat luas di tengah menjamurnya berbagai pusat perbelanjaan modern pada era sekarang ini.

Masyarakat dari berbagai kalangan kini berbondong-bondong mendatangi kawasan bersejarah tersebut untuk menikmati suasana bangunan tempo dulu, berburu aneka kuliner lezat, hingga menyaksikan beragam pertunjukan seni menarik.

Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya mencatat bahwa kawasan legendaris ini dulunya berfungsi sebagai pusat perdagangan, perhotelan, serta kuliner yang sangat bergengsi sejak awal abad ke-20.

Pihak portal data cagar budaya setempat menjelaskan bahwa "Jalan Tunjungan tumbuh sebagai pusat retail, perhotelan dan kuliner di Surabaya" yang terus berlangsung dengan dinamis sampai kedatangan Jepang pada tahun 1942.

Jejak Sejarah Perjuangan Dan Pasang Surut Ekonomi

Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi masa lampau, Jalan Tunjungan juga menyimpan catatan sejarah perjuangan bangsa yang sangat penting bagi kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Pahlawan.

Di kawasan strategis tersebut berdiri megah Hotel Yamato atau yang saat ini dikenal sebagai Hotel Majapahit, tempat terjadinya peristiwa heroik perobekan bendera Belanda pada tanggal 19 September 1945.

Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas perdagangan di sepanjang Jalan Tunjungan mulai mengalami kemunduran drastis saat memasuki dekade 1990-an akibat berbagai perubahan sosial ekonomi masyarakat.

Portal data cagar budaya kota menyebutkan bahwa "munculnya konsep gedung baru yang dinamakan mal, dengan konsep belanja baru, serta sulitnya lahan parkir di sepanjang Jalan Tunjungan" menjadi faktor utama matinya toko-toko lama di kawasan tersebut.

Revitalisasi Dan Kehidupan Baru Di Kota Pahlawan

Upaya pemulihan kawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam beberapa tahun terakhir berhasil mengembalikan denyut kehidupan dan perekonomian di Jalan Tunjungan secara signifikan.

Pemerintah setempat melakukan penataan menyeluruh meliputi pelebaran trotoar, perbaikan pencahayaan malam hari, pelestarian fasad bangunan tua, hingga penyediaan ruang publik bagi pelaku UMKM lokal.

Berbagai langkah penataan terpadu tersebut berhasil mengubah wajah Jalan Tunjungan menjadi destinasi wisata heritage yang interaktif sekaligus ruang publik yang hidup bagi lintas generasi.

Kini, bangunan-bangunan tua peninggalan masa lalu tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Surabaya yang berpadu harmonis dengan aktivitas seni dan kuliner modern.

Bima Bagus Sadewa Winanda

Bima Bagus Sadewa Winanda

Bima Bagus Sadewa Winanda adalah jurnalis yang mengkhususkan diri pada isu-isu daerah dan otonomi daerah di Indonesia. Dengan latar belakang Administrasi Publik dari Universitas Brawijaya, ia memiliki pemahaman yang kuat tentang dinamika pemerintahan daerah, hubungan pusat-daerah, serta isu-isu pembangunan di berbagai provinsi di Indonesia. Ia secara rutin meliput perkembangan kebijakan daerah dan menyajikan analisis tentang implementasi otonomi daerah di tanah air.