Penguatan Ekosistem Kampus Inklusif dan Berpusat pada Manusia
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Bambang Pramujati secara resmi menyerukan pentingnya penguatan ekosistem kampus yang inklusif serta antikekerasan dalam acara U25 PTN-BH Leaders Forum 2026 yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026.
Pertemuan penting tersebut dihadiri oleh berbagai jajaran pimpinan perguruan tinggi negeri badan hukum guna mendiskusikan strategi komprehensif dalam memajukan kualitas institusi pendidikan tinggi di Indonesia agar tidak hanya unggul dalam aspek akademik semata.
Dalam pemaparannya, Bambang menilai bahwa standar kualitas sebuah universitas di era modern saat ini harus mampu melampaui pencapaian akademik konvensional melalui penciptaan lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh sivitas akademika.
"Universitas harus membangun ekosistem yang berpusat pada manusia," kata Bambang, seraya menambahkan bahwa institusi pendidikan tinggi wajib menghadirkan kesempatan berkembang secara merata bagi setiap individu di dalamnya.
Pilar Strategis dan Pengembangan Teknologi Asistif di Kampus
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konsep universitas inklusif tidak sekadar mengakomodasi berbagai perbedaan latar belakang, melainkan juga wajib menyediakan ruang yang memadai agar setiap insan akademik dapat mengoptimalkan potensinya.
Menurut Bambang, kemajuan teknologi yang diciptakan oleh dunia akademik harus mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang ada di tengah masyarakat luas saat ini.
"Inovasi teknologi harus menyelesaikan persoalan kemanusiaan," ujar Bambang, menjelaskan bahwa Institut Teknologi Sepuluh Nopember kini terus berorientasi pada pengembangan riset yang berpihak kepada kebutuhan publik.
Guna mewujudkan visi tersebut, ITS telah merumuskan lima pilar utama yang mencakup tata kelola institusi, pengembangan infrastruktur, optimalisasi kampus digital, peningkatan kesejahteraan, serta penerapan inovasi yang inklusif.
Perhatian Terhadap Kesehatan Mental dan Pencegahan Kekerasan Seksual
Selain fokus pada aspek teknologi dan tata kelola, pimpinan tertinggi ITS tersebut juga menyoroti urgensi penanganan kesehatan mental di lingkungan kampus yang sering kali luput dari perhatian institusional.
Ia merekomendasikan penerapan metode pendekatan khusus yang dikenal sebagai Look, Listen, Link untuk mendeteksi secara dini serta memberikan dukungan optimal terhadap kesejahteraan mental sivitas akademika.
"Seluruh lapisan perlu mampu mengenali gejala awal dan menghubungkan ke layanan profesional," ungkapnya, sembari menekankan bahwa proses pendampingan yang tepat harus dimulai sejak tahap skrining awal.
Di samping isu kesehatan mental, ITS juga berkomitmen penuh dalam pencegahan kekerasan melalui penguatan peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual sebagai syarat mutlak terciptanya lingkungan kampus yang aman.